Jumat, 28 Januari 2022

Psy-Story Day 8

Sisil sempat terhenti menulis.

Malas menggerakkan tangan dan pikiran. Mati rasa.

Rasa terpuruk dan tangisan datang tanpa aba-aba.

Quarter Life Crisis hit her so hard.

Memasuki usia yang hampir seperempat abad, ia terus-terusan kehilangan ambisi.

Tak ada motivasi, hilang.

Merasa sangat kesepian padahal tidak sendiri.

Semakin sulit untuk merespon kebahagiaan orang lain.

Ketakutan-ketakutan akan masa depan terus terngiang.

Berusaha untuk terus terlihat baik-baik saja, tetapi isi pikiran terus berjalan.

Rasa pusing dan berat di kepala terasa sepanjang hari. 

Rasa cemas dan ketakutan bercampur datang secara bersamaan.

Is she depressed?

Psy-Story (day 7)

 Kamis, 27 Januari 2022

Sisil hancur, ia sangat teramat terguncang.

Kegagalan itu datang lagi. 

Seperti dipukul berkali-kali hingga mati rasa.

Ya, kehilangan arah.

Sisil tak tahu kemana harus berlari.

Bertemu kembali dengan persimpangan. Apakah maju atau mundur. Apakah ke kanan atau ke kiri.

. . . 

"Should I stay? or should I go?" , she said.

Psy-Story (Day 5&6)

Selasa, 25 Januari 2022

Just a flat feeling

But, happy enough 

Bersemangat untuk terus maju

* * * * *

Rabu, 26 Januari 2022

Sedikit sedih dan tertekan

But, let it flow

Rasa sedih terkadang harus dibiarkan mengalir begitu saja 

Senin, 24 Januari 2022

Psy-Story (Day 3&4)

Nothing happened.

Sisil's emotion was sooo stable.

Menikmati hari, beban esok hari tidak perlu dibawa ke masa sekarang.

Just let it flow.

Sabtu, 22 Januari 2022

Psy-Story (Day 2)

 Mixed Feeling.

Hari ini perasaan Sisil bercampur aduk.

Pagi happy, malam overthinking lagi.

Naik motor, suasana hati terlalu happy, melamun lagi membayangkan hal-hal menyenangkan; pakai jas bagus, naik mobil bagus, jadi wanita karir yang sukses, traveling kesana kesini.

Sisil terbiasa tidak fokus saat melakukan aktivitas seolah pikirannya terus berjalan, menimbulkan perasaan yang sangat bahagia hingga lupa bahwa sedang melakukan sesuatu.

Ya, perasaan yang agak menggebu. Untungnya sisil lekas tersadar dan melanjutkan mengendarai motor menyusuri jalanan sambil bernyanyi pelan.

******Happy*******

Mendapatkan banyak makanan siang ini. Ada durian yang super duper lembut, kelengkeng yang manis legit, dan beberapa gorengan yang menggiurkan. Bahagia sekali rasanya.

******Sad*******

Tiba-tiba saat Sisil sedang beraktivitas di luar rumah pada malam hari, ia sedikit teringat tentang lowongan pekerjaan yang telah ia lalui sejauh ini. Muncul sedikit rasa takut, perasaan gelisah dan dada yang mulai sedikit sesak. Sisil berupaya mengalihkan pikirannya ke hal lain. Mencoba berpikir sesuatu yang baik tentang pekerjaan yang akan datang. Untung berhasil.

Selalu saja kesenangan dan kesedihan bertukar dengan cepat. Seolah tidak ada ruang untuk menikmati emosi yang timbul.

Apakah ini normal?

Apakah pikiran semua orang juga terus berjalan dan berkelana?

WE NEVER KNOW.

Kamis, 20 Januari 2022

Psy-Story (Day 1)

Sisil tiba-tiba menangis. Tak sengaja terlintas dalam benaknya tentang keinginan ibunya. Ibunya seringkali merayu Sisil untuk mencoba kesempatan mendapatkan pekerjaan yang menurut ibunya menjamin masa depan anaknya. Tapi, tunggu dulu. Sisil merasa mempertanyakan sebuah hal yang ia rasa sedikit janggal, “Pekerjaan itu benar mimpiku atau mimpi ibuku?.”

Jauh sebelum ini terjadi, sebetulnya Ibu Sisil memang beberapa kali menyampaikan tentang mimpinya yang tidak pernah tergapai. Wajar saja, Ibu Sisil menikah di usia sangat muda. Ya, 21 tahun. Dimana umumnya pada usia tersebut gadis belia menikmati masa dewasa awalnya dengan kekasih dan teman-teman, mengejar mimpi dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Ibu Sisil terpaksa tidak melanjutkan pendidikan perguruan tinggi karena keadaan ekonomi kakek nenek yang tidak baik. Tak lama setelah bekerja, keduanya mendesak Ibu Sisil untuk segera menikah.

Akhirnya luka itu diturunkan kepada anaknya, Sisil. Ambisi-ambisi yang tertahan akhirnya keluar ketika Sisil masuk usia dimana ibunya dulu tak dapat menggapai mimpi. Sisil bimbang dan tertekan. Haruskah ia mengikuti keinginan ibunya? Atau lebih baik mengejar mimpi Sisil sendiri tapi dicap sebagai anak yang tidak berbakti?

Sisil ingin sekali ibunya mengerti tentang apa yang diinginkan dirinya. Tidak jarang Ibu Sisil membandingkan SIsil dengan kakak tiri Sisil, mulai dari besar IPK, hasil skripsi, proses sidang, dan lain-lain. Sering pula Ibu Sisil mengatakan bahwa anak temannya sudah begini begitu. Sisil selalu berharap tidak bisakah ibunya sekali saja bertanya pertanyaan-pertanyaan seperti,

“Nak, kamu sebetulnya ingin jadi apa?”

“Nak, apakah kamu jika bekerja dalam bidang ini akan bahagia?”

“Nak, apakah mimpimu itu menyenangkan?”

Hampir tidak mungkin. Dalam keluarga Sisil materi adalah yang utama. Gaji besar adalah sebuah tujuan. Sisil gadis dengan mimpi mimpinya hanyalah angan. Pekerjaan yang disukai Sisil mungkin akan dianggap biasa saja dan bergaji rendah. Sisil yang berpaham agama lebih baik dibanding keluarganya selalu beranggapan bahwa rezeki sudah tertakar. Besar kecilnya rezeki yang turun hari ini adalah dari yang sudah tertakar dari manusia lahir hingga meninggal.

Tak jarang Sisil berkeinginan untuk segera memisahkan diri dari keluarganya, ya, akibat pola pikir yang tidak sama. Pola pikir yang Sisil pikir kurang tepat. Sisil beranggapan dunia hanya tempat sementara, semua akan meninggal. Harta yang dicari hingga jungkir balik tidak akan ada harganya. Bekerja bisa dinilai ibadah jika bukan hanya materi tujuan utamanya.

Sisil sudah kapok untuk berbincang dengan ibunya yang keras kepala. Sisil sempat sakit hati karena dulunya dipandang terlalu fanatik dalam beragama oleh ibunya sendiri.

Hingga sekarang Sisil hanya bisa terus berjalan tanpa arah dan terus menerus merasa tertekan.

Jumat, 04 Desember 2020

Issues : Plastic and Energy

Problematika tentang sampah plastik, energi yang salah satunya  listrik, dan upaya pemeliharaan lingkungan semakin hari semakin santer terdengar. Pertama hal yang akan kita bahas adalah pencemaran sampah plastik. Seiring dengan bertumbuhnya jumlah penduduk bumi, sampah-sampah sisa hasil konsumsi pada kehidupan sehari-hari terus meningkat. Plastik menjadi suatu kebutuhan tersendiri karena sifatnya yang praktis dan industri plastik pun berkembang dengan pesat.  Kita tanpa sadar menggunakan plastik secara mudah dan membuangnya ke tempat sampah ketika sudah selesai menggunakan atau memanfaatkannya. Hal tersebut memang terlihat sepele namun ketika seluruh manusia di bumi melakukan hal yang sama maka dapat dibayangkan berapa banyak sampah yang terbuang begitu saja. Fenomena sampah plastik yang mencemari daratan bahkan lautan menarik para ilmuwan untuk mengkaji hal tersebut secara lebih luas lagi. 

Pada tahun 2017, tercipta sebuah film dokumenter yang berjudul “A Plastic Ocean”. Film ini menceritakan situasi nyata tentang betapa sampah plastik yang mengapung di lautan luas berdampak pada ekosistem laut beserta biota di dalamnya. Salah satu yang menjadi fokus salah satu ilmuwan kemaritiman adalah blue whale atau paus biru yang berukuran raksasa hingga panjangnya dapat mencapai 30 meter atau setara dengan panjang pesawat maupun 3 buah bis yang disejajarkan. Dalam beberapa tahun terakhir muncul kasus-kasus paus biru yang terdampar di daratan sekarat dan mati dengan kesakitan luar biasa akibat menelan plastik yang mengapung di habitatnya. Paus biru mampu menampung sekitar 75.000 liter air ketika mulutnya menganga. Oleh karena hal tersebut, bukan tidak mungkin ketika paus sedang mencari makanan, sampah akan masuk bersamaan dengan air laut yang juga masuk ke dalam mulut paus dan terus masuk ke dalam perutnya. 

Sampah yang terdiam di perutnya seperti bom waktu yang tinggal menunggu waktu untuk bekerja. Senyawa kimia yang berbahaya akan terus menggerogoti tubuh paus sampai sekarat dan mati. Dalam film “A Plastic Ocean” juga dijelaskan bagaimana sampah dari daratan dapat sampai ke lautan bebas. Penelitian di  Perancis dalam kedalaman 354 meter ditemukan sampah kain yang tertimbun di dasar laut. Setelah itu, dikirimkan alat deteksi menuju kedalaman 1600 meter. Alat tersebut merekam adanya tumpukan botol plastik bekas minuman yang berserakan di dasar laut. Dalam kasus lain di Texas, sampah dari darat yang terbuang atau terbawa ke dalam arus sungai akan bermuara ke laut dan akan terus terbawa gelombang ombak hingga ke samudera. Plastik-plastik yang terombang ambing di lautan awalnya berukuran besar, namun setelah terkena tekanan suhu, ombak, dan sinar matahari, plastik akan hancur menjadi serpihan kecil. Serpihan kecil inilah yang akan membahayakan biota laut yang mengira bahwa serpihan sampah plastik tersebut sebagai makanannya. 

Ketika berkunjung ke China, pada salah satu tepi pantainya tercecer banyak butiran silikon dari container yang terbawa badai beberapa waktu sebelumnya. Kemudian, beberapa ikan diambil sebagai sampel untuk melihat apakah mereka ikut menelan silikon tersebut. Hasilnya, dalam satu perut ikan yang dibedah terdapat 5-8 butir silikon. Segala upaya dilakukan oleh beberapa ilmuwan dengan menciptakan teknologi baru berupa alat penghancur sampah yang mampu menghancurkan sampah ukuran besar menjadi serbuk. Selain itu, pemerintah di berbagai negara berupaya menerapkan sistem pemilahan sampah menjadi beberapa klasifikasi berdasarkan jenis materialnya seperti kaca, kertas, plastik, dan lain sebagainya. Namun, upaya tersebut belum diterapkan oleh banyak pihak dikarenakan oleh kurangnya kesadaran penduduk bumi. Ketika ada teknologi dan kebijakan, namun tanpa kesadaran semuanya akan berjalan percuma. 

Kita beralih pada pembahasan kedua tentang energi listrik. Listrik merupakan kebutuhan dasar penduduk bumi untuk mendukung aktivitasnya. Pada tahun 2050 diperkirakan penggunaan energi listrik sedang berada pada puncaknya dan tahun 2030 kebutuhan akan listrik juga diprediksi akan meningkat pesat. Padahal, penggunaan listrik kita dalam sehari-hari sebetulnya menghasilkan emisi karbondioksida yang dilepaskan ke udara menuju atmosfer. Energi listrik di Indonesia sendiri 60% didapatkan dari pembakaran batu bara, sebesar 50% dari PLTA, 12% energi baru, dan 1% tenaga surya. Pada saat ini, untuk efisiensi energi listrik, perusahan produsen listrik mulai menggunakan Solar PV yang didapatkan dari luar negeri terutama China selaku pemasok besar.  Untuk mencukupi kebutuhan penduduk Indonesia, PLN berencana untuk  membangun 16 GW untuk 10 tahun kedepan dengan menggunakan Solar PV 2.2 GWp (14%).  Selain itu, Indonesia juga berkomitmen untuk mengurangi emisi karbondioksida dengan target mencapai 23% di tahun 2025 dan 29% di tahun 2030. 

Teknologi semakin digali untuk menghasilkan renewable energy guna terciptanya efisiensi dalam penggunaan energi listrik. Sekarang energi listrik dari panel surya semakin menjadi fokus untuk dikembangkan. Pasalnya, di negara-negara lain tenaga surya sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat pada suatu negara pada siang hari. Pembangun Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia masih berada pada kapasitas 200 mega watt yang jauh dari kapasitas negara lain. Kemungkinan di Indonesia PLTS tidak dapat berjalan optimal karena beberapa faktor, salah satunya adalah biaya yang relatif mahal. Padahal PLTS dapat menjadi alternatif untuk persoalan energi listrik yang sebagian besar masih mengandalkan batu bara yang merupakan sumber daya tak terbarukan. Keuntungan lain yang didapat ketika menggunakan panel surya yaitu menurunkan tagihan dari PLN bahkan hingga mencapai 43%. 

Terkait isu yang telah dijabarkan di atas dalam sudut pandang pemeliharaan lingkungan, alternatif yang ditawarkan cukup aman dan dapat diusahakan. Alternatif berupa pengolahan sampah melalui alat penghancur dan kebijakan pemilahan akan membantu mengurangi sampah yang akan bermuara ke laut. Sehingga, sampah-sampah tersebut terkoodinir dengan baik dan dapat dimanfaatkan kembali untuk beberapa jenis material yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali. Untuk energi listrik, menciptakan energi baru cukup ramah untuk lingkungan dan sangat mendukung upaya pemeliharaan lingkungan. Hal tersebut dikarenakan akan mengurangi emisi yang terlepas ke udara sehingga tidak memperparah kondisi pemanasan global yang telah terjadi selama ini. Pemanfaatan tenaga surya akan mengurangi eksploitasi batu bara yang akan membantu mencegah kelangkaan Sumber Daya Alam (SDA). 


Penulis :

Zhafira Rory Ramadhani 

1021710078 

Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI)

Source:

Film : A Plastic Ocean (2017)

Webinar “Solar PV Customer Adaption, Technology and Business” Pada 04 Desember 2020